Perjalanan Mengembalikan Asbuton Menjadi Tuan Rumah

Perjalanan menyusuri lanskap Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, selalu menyajikan perpaduan antara pesona alam dan guratan sejarah yang terukir di atas bebatuan hitam pekat. Ketika kaki menapak di area tambang raksasa ini, tercium aroma khas alam yang menguar dari balik lapisan tanah.

Di sinilah terbaring harta karun dunia yang tertidur lelap selama puluhan tahun: Aspal Buton (Asbuton). Memandang tebing-tebing aspal alam yang menjulang tinggi, batin ini tergelitik oleh sebuah ironi. Bagaimana mungkin, di atas tanah yang menyimpan cadangan aspal alam terbesar, kita masih harus menengadahkan tangan menerima aspal dari luar negeri setiap tahunnya? Padahal, bumi pertiwi sudah sejak lama menyodorkan kekayaan ini untuk kita kelola.

Catatan masa lalu mengisahkan bahwa kepingan hitam ini pertama kali ditemukan pada era kolonial. Sempat menjadi primadona, perlahan Asbuton tersingkir oleh aspal dari negeri seberang yang seolah menawarkan jalan pintas terekam jelas di berbagai jalan yang yang lebih mudah di lapangan.

Cerita tentang kualitas yang dianggap tak menentu menjelma menjadi mitos yang terus dipercaya dari generasi ke generasi. Padahal, jika kita mau jujur berkaca, akar masalahnya bukanlah pada kualitas kekayaan alam itu sendiri, melainkan pada ketidaksiapan kita dalam membangun sistem untuk merawat dan mengelolanya.

Seolah kita memaksakan sang tuan rumah untuk berlari sebelum ia diajarkan cara berjalan dengan benar. Mengembalikan Asbuton ke tempat terhormatnya, pada akhirnya, adalah sebuah perjalanan panjang untuk membongkar keraguan batin kita sendiri dan melepaskan diri dari sisa-sisa mental ketergantungan. Namun, harapan itu tidak pernah benar-benar padam.

Kunjungan ke fasilitas pengolahan di pesisir Buton hari ini menyajikan pemandangan yang menggetarkan hati. Ketekunan dan kegigihan anak bangsa telah berhasil melahirkan cara-cara baru untuk mengolah bongkahan aspal alam ini menjadi karya yang luar biasa. Berbagai hasil olahannya kini tak lagi dipandang sebelah mata, bahkan terbukti mampu menggantikan sepenuhnya ketergantungan kita pada produk luar negeri.

Membayangkan bahwa material jalan raya yang kita pijak murni berasal dari rahim bumi pertiwi, memberikan semacam kelegaan batin. Karya putra daerah ini perlahan namun pasti mulai menundukkan keraguan yang selama ini membelenggu. Perjalanan sang tuan rumah untuk kembali merengkuh tanahnya juga membelah Pulau Jawa hingga Sumatera.

Menyaksikan langsung bagaimana aspal dari tanah Buton dihampar di bawah terik matahari, menghadirkan kebanggaan yang mengalir hangat di dada. Namun, hamparan jalan mulus itu juga membisikkan pesan sunyi dimana kebanggaan dan aturan yang memaksa saja tidaklah cukup.

Untuk membuat Asbuton benar-benar berjaya, kita perlu membangun sebuah niat baik bersama. Sebuah harmoni di mana pengambil kebijakan, pengusaha, dan para pekerja di lapangan melangkah seirama dengan rasa saling percaya. Tanpa kesadaran untuk saling menjaga dan bukan sekadar mencari keuntungan sesaat, sejarah kelam masa lalu bisa saja terulang kembali.

Pada ujung refleksi perjalanan ini, terselip sebuah kesadaran yang teramat benderang. Perjuangan menjadikan Asbuton kembali sebagai tuan rumah di negeri sendiri adalah wujud paling nyata dari cinta tanah air. Kita sedang menempuh jalan spiritual untuk merebut kembali kedaulatan atas apa yang dititipkan Tuhan kepada bangsa ini. Masa depan jalan raya di Indonesia sudah selayaknya dibangun dari keringat dan akal budi putra-putri bangsa yang mengolah kekayaan ibu pertiwinya sendiri.

Perjalanan ini memang belum tiba di garis akhir yang sempurna, namun langkah mantap telah diayunkan. Sang raksasa hitam dari tanah Buton kini telah benar-benar terbangun, merajut asa untuk kembali merengkuh kejayaannya di rumahnya sendiri.

 

Penulis: Tim Infra Library

Untuk mengetahui informasi berita lainnya Baca di: Artikel TeknikBerita Terbaru.

Scroll to Top

INFRA BERTANYA?

Daftar Penulis Infralibrary

Catatan:

Dokumen dan File E-book yang dikirimkan adalah sepenuhnya dibuat oleh penulis itu sendiri dan segala sesuatunya menjadi tanggung jawab penulis.

AREA MEMBER INFRALIBRARY



Daftar Member Infralibrary

Sudah punya akun?