Tanya: Bagaimanakah cara sederhana mengetahui sebuah rumah masih layak huni?
Jawab — Mulai dari Empat Aspek Utama.
Secara sederhana, kelayakan sebuah rumah dapat dilihat dari empat kelompok utama, yaitu keselamatan bangunan, kesehatan penghuni, kecukupan ruang, serta ketersediaan prasarana dan sanitasi dasar. Pemeriksaan awal dapat dilakukan sendiri secara visual. Namun, jika ditemukan kerusakan struktur yang serius, pemeriksaan harus dilanjutkan oleh tenaga teknis yang kompeten.

Periksa Struktur Utama Rumah.
Perhatikan pondasi yang terlihat, kolom, balok, dinding, lantai, dan konstruksi atap. Waspadai retakan besar atau retak yang terus bertambah, kolom atau balok yang rusak, dinding miring, lantai turun, serta bagian bangunan yang mengalami perubahan bentuk. Kerusakan pada elemen struktur mempunyai tingkat kepentingan berbeda dibandingkan retak kecil pada plester atau lapisan finishing.
Lihat Kondisi Atap dan Plafon.
Atap harus mampu melindungi penghuni dari hujan dan cuaca. Periksa apakah terdapat genteng atau penutup atap yang rusak, kebocoran, rangka atap lapuk atau berkarat, serta plafon yang melendut. Plafon yang turun, bekas rembesan besar, atau rangka atap yang terlihat mengalami kerusakan berat perlu segera diperiksa karena dapat menimbulkan risiko jatuh.

Periksa Retakan dengan Lebih Teliti.
Tidak semua retak berarti rumah akan roboh. Retak rambut pada plester dapat bersifat nonstruktural. Namun, retakan diagonal yang besar, retak yang melewati kolom atau balok, retakan yang terus melebar, atau retak yang disertai perubahan bentuk bangunan perlu mendapat perhatian khusus. Cara sederhana adalah mendokumentasikan retakan dengan foto dan ukuran pembanding, kemudian mengamati apakah terjadi perkembangan.
Pastikan Lantai dan Dinding Tidak Mengalami Kerusakan Berat.
Periksa apakah lantai mengalami penurunan, pecah secara luas, atau terasa tidak stabil. Pada dinding, amati apakah terdapat kemiringan, bagian yang terlepas, kelembapan berlebihan, atau kerusakan akibat air. Dinding yang terus-menerus lembap juga dapat memicu pertumbuhan jamur dan menurunkan kualitas kesehatan lingkungan rumah.
Periksa Pintu dan Jendela.
Pintu atau jendela yang tiba-tiba sulit dibuka dan ditutup dapat menjadi salah satu petunjuk adanya perubahan pada bangunan, meskipun penyebabnya bisa juga sederhana seperti pemuaian material atau kerusakan kusen. Apabila kondisi tersebut muncul bersamaan dengan retakan besar, lantai turun, atau dinding berubah posisi, pemeriksaan lebih lanjut sebaiknya dilakukan.

Pastikan Rumah Memiliki Ventilasi dan Pencahayaan.
Rumah yang layak bukan hanya harus kuat, tetapi juga mendukung kesehatan penghuninya. Ruangan perlu mempunyai pertukaran udara dan pencahayaan yang memadai. Rumah yang sangat lembap, pengap, gelap, serta memiliki jamur secara luas memerlukan perbaikan ventilasi, pencahayaan, dan pengendalian kelembapan.
Periksa Air Bersih dan Sanitasi.
Pastikan tersedia akses air untuk kebutuhan rumah tangga dengan kualitas yang sesuai peruntukannya. Periksa toilet, septic tank atau sistem pengolahan air limbah domestik, saluran pembuangan, dan drainase lingkungan. Limbah rumah tangga seharusnya tidak dibuang sembarangan sehingga mencemari sumber air maupun lingkungan sekitar.

Periksa Instalasi Listrik.
Lihat apakah terdapat kabel terbuka, sambungan listrik yang tidak terlindungi, stopkontak rusak, tanda terbakar, atau instalasi yang sering mengalami gangguan. Instalasi listrik yang tidak aman dapat menimbulkan risiko sengatan dan kebakaran. Pemeriksaan atau perbaikan instalasi yang bermasalah sebaiknya dilakukan oleh tenaga yang kompeten.
Perhatikan Risiko Kebakaran dan Keselamatan Keluar Rumah.
Penghuni harus dapat keluar dari rumah dengan relatif mudah ketika terjadi keadaan darurat. Hindari jalur keluar yang tertutup barang, konstruksi yang mudah runtuh, atau sumber api yang berdekatan dengan material mudah terbakar. Untuk rumah bertingkat, kondisi tangga, railing, balkon, dan jalur sirkulasi juga perlu diperiksa.
Amati Kondisi Lingkungan Sekitar.
Kelayakan hunian juga dipengaruhi lingkungannya. Perhatikan apakah rumah sering terendam banjir, berada pada lereng yang menunjukkan tanda pergerakan tanah, berdekatan dengan tebing tidak stabil, atau mengalami genangan akibat drainase yang buruk. Kondisi lingkungan dapat menimbulkan risiko meskipun bangunan rumah sendiri terlihat masih baik.

Gunakan Pemeriksaan “10 Menit” sebagai Deteksi Awal.
Masyarakat dapat melakukan pemeriksaan cepat dengan melihat 10 bagian penting: pondasi yang terlihat, kolom, balok, dinding, lantai, atap, pintu-jendela, listrik, air-sanitasinya, dan kondisi lingkungan. Foto bagian yang mencurigakan dan bandingkan secara berkala. Pemeriksaan sederhana ini bukan pengganti pemeriksaan teknis, tetapi dapat membantu menemukan tanda bahaya lebih awal.
Kapan Harus Memanggil Tenaga Teknis?
Segera minta pemeriksaan lebih lanjut apabila ditemukan kolom atau balok retak berat, tulangan terlihat dan berkarat, dinding miring, lantai mengalami penurunan signifikan, rangka atap rusak berat, bangunan berubah bentuk, kerusakan setelah gempa atau banjir, atau retakan yang berkembang cepat. Pada kondisi tersebut, jangan menentukan keamanan rumah hanya berdasarkan pengamatan visual sendiri.
Kesimpulan — Gunakan Prinsip “Aman, Sehat, dan Memiliki Sarana Dasar”.
Cara paling sederhana menilai rumah masih layak dihuni adalah memastikan struktur tidak menunjukkan tanda kerusakan berbahaya, atap dan lantai berfungsi baik, ruangan memiliki pencahayaan serta ventilasi, tersedia air dan sanitasi, instalasi listrik aman, dan lingkungan tidak menunjukkan bahaya langsung. Jika ditemukan tanda kerusakan struktural, aspek keselamatan harus menjadi prioritas sebelum mempertimbangkan kenyamanan atau penampilan rumah.
Catatan.
Pemeriksaan sederhana merupakan skrining awal, bukan penetapan resmi kelaikan bangunan. Untuk bangunan yang mengalami kerusakan berat, berusia tua, pernah terkena gempa, banjir, kebakaran, longsor, atau akan direnovasi secara signifikan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan oleh tenaga ahli/tenaga teknis yang kompeten dengan mengacu pada ketentuan bangunan gedung dan standar teknis yang berlaku di Indonesia.

