Tren “Green Retrofitting” 2026: Mengubah Gedung Tua Menjadi Aset Hemat Energi

Gelombang baru melanda pasar properti komersial Jakarta di awal tahun 2026. Bukan perlombaan membangun gedung pencakar langit baru, melainkan kompetisi memoles gedung tua menjadi “hijau”. Fenomena ini dikenal sebagai Green Retrofitting.

Laporan terbaru dari Green Building Council Indonesia (GBCI) mencatat lonjakan permintaan sertifikasi Greenship Existing Building sebesar 40% pada Kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemicunya jelas: pemberlakuan Pajak Karbon (Carbon Tax) dan wajib audit energi ketat bagi gedung berlantai di atas 8 yang efektif berlaku Januari ini.

Mengapa Pemilik Gedung Panik Berbenah?

Bagi pemilik gedung perkantoran di kawasan segitiga emas (SudirmanThamrin-Kuningan) yang dibangun era 90-an atau 2000-an, status quo adalah kerugian. Gedung-gedung tua ini umumnya boros energi, dengan Overall Thermal Transfer Value (OTTV) yang tinggi. Akibatnya, biaya listrik membengkak dan nilai sewa anjlok karena penyewa multinasional kini mewajibkan kantor mereka bersertifikat hijau.

“Pilihannya cuma dua yakni renovasi atau ditinggal penyewa. Tahun 2026 ini, penyewa korporat tidak lagi melihat kemewahan lobi marmer, tapi melihat efisiensi biaya utilitas dan sertifikat Net Zero Ready,” ujar Head of Advisory JLL Indonesia dalam rilis pasar properti pekan lalu.

Peluang Bisnis Bagi Vendor Material & Teknologi

Tren ini membuka keran rezeki bagi kontraktor spesialis dan vendor material bangunan. Ada tiga sektor yang paling diuntungkan dari booming retrofitting ini:

Fasad & Kaca (Facade Upgrade): Permintaan penggantian kaca polos lama menjadi kaca Low-E (Low Emissivity) meningkat tajam. Kaca jenis ini mampu menolak panas matahari hingga 60%, meringankan beban kerja AC.

Sistem Pendingin (HVAC Modernization): Penggantian Chiller kuno dengan sistem Magnetic Bearing Chiller atau VRF (Variable Refrigerant Flow) berbasis AI. Teknologi ini diklaim mampu memangkas tagihan listrik hingga 30-40%.

Building Automation System (BAS): Pemasangan ribuan sensor IoT untuk mengatur lampu dan suhu ruangan secara otomatis berdasarkan okupansi.

ROI yang Menggiurkan

Meski investasi awal (CapEx) untuk retrofitting terbilang mahal, hitungan bisnis jangka panjang menunjukkan angka positif. Konsultan energi memproyeksikan Return on Investment (ROI) dari penghematan listrik bisa dicapai dalam waktu 3-4 tahun. Selain itu, nilai aset gedung (capital value) otomatis terdongkrak naik.

Bagi para kontraktor dan konsultan O&M, pesan tahun 2026 sangat jelas: Uang tidak lagi hanya berputar di proyek lahan kosong, tetapi tertanam di dinding-dinding gedung tua yang menunggu sentuhan teknologi untuk “hidup” kembali.

 

Penulis: Tim Media Konstruksi

Editor: Tim Infra Library

Untuk Mengetahui informasi berita lainnya Baca di: Artikel TeknikBerita Terbaru

Scroll to Top

INFRA BERTANYA?

Daftar Penulis Infralibrary

Catatan:

Dokumen dan File E-book yang dikirimkan adalah sepenuhnya dibuat oleh penulis itu sendiri dan segala sesuatunya menjadi tanggung jawab penulis.

AREA MEMBER INFRALIBRARY



Daftar Member Infralibrary

Sudah punya akun?