Sirine peringatan dini kembali meraung dari kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Kemayoran. Bukan karena gempa, melainkan karena data satelit yang menunjukkan gumpalan awan konvektif masif yang bergerak agresif menuju Pulau Jawa, Sumatera bagian Selatan, dan Sulawesi.
Awal tahun 2026 yang seharusnya menjadi momen pemulihan ekonomi pasca-Nataru, kini berubah menjadi periode “Siaga Satu” bagi para pelaku infrastruktur. Fenomena La Nina yang bertahan sejak akhir 2025 diprediksi mencapai puncaknya pada akhir Januari hingga Februari 2026, membawa curah hujan 40% di atas normal. Bagi dunia konstruksi, khususnya Operasi dan Pemeliharaan (O&M), air berlebih adalah musuh nomor satu yang dapat melumpuhkan nadi logistik nasional.

Alarm Hidrometeorologi dan Respons Menteri PU
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam rilis resminya awal Januari ini menegaskan bahwa potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang masih sangat tinggi. “Kami meminta seluruh pemangku kepentingan infrastruktur, terutama pengelola jalan tol dan bendungan, untuk tidak menurunkan kewaspadaan.
Tanah sudah jenuh air sejak Desember, sedikit saja hujan lebat tambahan bisa memicu ketidakstabilan lereng,” ujarnya. Merespons hal tersebut, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, bergerak cepat. Tidak ingin insiden putusnya jalan nasional seperti tahun-tahun sebelumnya terulang, Kementerian PU mengaktifkan kembali Posko Siaga Sapta Taruna 24 Jam.
Dalam inspeksi mendadak (sidak) ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) di Jawa Tengah pekan lalu, Menteri Dody mengonfirmasi kesiapan armada tempurnya. “Kita tidak melawan alam, tapi kita bersiap menghadapi dampaknya. Per Januari 2026 ini, kami telah menyiagakan lebih dari 1.700 unit Disaster Relief Unit (DRU) yang tersebar di seluruh Indonesia. Excavator, dump truck, hingga jembatan bailey sudah standby di titik-titik rawan atau blackspot bencana,” tegas Dody Hanggodo.

Angka 1.700 unit DRU ini merupakan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa paradigma O&M kini benar-benar berfokus pada mitigasi risiko, bukan sekadar respons pasca-bencana.
Fokus O&M: Drainase adalah Kunci
Di lapangan, pertempuran melawan air bukan dimenangkan dengan aspal yang tebal semata, melainkan sistem drainase yang prima. Direktur Jenderal Bina Marga menekankan bahwa instruksi utama bagi seluruh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) O&M di awal 2026 ini adalah “Zero Standing Water” atau nihil genangan.
Banjir yang merendam Jalur Pantura Demak-Kudus pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran mahal. Tahun ini, upaya normalisasi saluran samping dan pengerukan sedimen di gorong-gorong (culvert) dilakukan jauh lebih agresif. Tim “Pasukan Kuning” Bina Marga terlihat bekerja maraton membersihkan tali air di sepanjang jalan nasional Pantai Utara Jawa dan Lintas Timur Sumatera.
“Musuh aspal itu air. Jika drainase mampet, air akan menggenang di badan jalan. Saat roda truk logistik melintas di atas aspal basah dengan tekanan tinggi, terjadilah efek pumping yang menghancurkan struktur perkerasan dari dalam. Itulah kenapa lubang jalan muncul sangat cepat di musim hujan,” jelas salah satu tenaga ahli utama Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) yang dihubungi Media Konstruksi.

Jalan Tol: Teknologi Lawan Cuaca
Sementara itu, di sektor jalan tol, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) seperti Jasa Marga dan Hutama Karya juga menerapkan protokol O&M ketat. Di Tol Trans Jawa, pemantauan lereng kritis kini tidak lagi hanya mengandalkan patroli visual, tetapi menggunakan sensor inclinometer yang terhubung dengan IoT (Internet of Things).
Teknologi ini mampu mendeteksi pergeseran tanah dalam satuan milimeter. Jika tanah lereng di sisi jalan tol bergerak melebihi ambang batas aman akibat gerusan hujan, sistem akan mengirim sinyal bahaya ke Command Center, memungkinkan penutupan jalur dilakukan sebelum longsor terjadi. Ini adalah bentuk nyata implementasi Smart O&M yang menyelamatkan nyawa.
Di Tol Trans Sumatera, fokus O&M tertuju pada penanganan wet spotting dan aquaplaning. Mesin water jetting dikerahkan untuk membersihkan permukaan jalan dari lumut dan minyak agar kekesatan jalan tetap terjaga meski diguyur hujan deras, memastikan kendaraan logistik tetap bisa melaju aman.
Memastikan Logistik Tak Putus
Taruhannya sangat besar. Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memprediksi bahwa gangguan pada jalur utama Pantura atau Lintas Sumatera selama lebih dari 3 hari dapat memicu kenaikan inflasi daerah hingga 0,5% akibat kelangkaan bahan pokok.
Oleh karena itu, strategi O&M di awal 2026 ini bukan sekadar urusan teknis sipil, melainkan urusan ketahanan ekonomi nasional. Kesiapan alat berat, kecepatan respons tim penambal lubang (Tim Sapu Lubang), dan manajemen lalu lintas saat bencana menjadi indikator kinerja utama Kementerian PU di bawah komando Menteri Dody Hanggodo.
Masyarakat pengguna jalan kini menanti pembuktian apakah infrastruktur kita mampu tetap “gagah” berdiri di tengah gempuran La Nina 2026? Satu hal yang pasti, ribuan petugas O&M di lapangan sedang bekerja dalam sunyi, bermandi hujan, demi memastikan roda ekonomi Indonesia terus berputar.
Penulis: Tim Media Konstruksi
Editor: Tim Infra Library
Untuk Mengetahui informasi berita lainnya Baca di: Artikel Teknik – Berita Terbaru.

